Minggu, 20 Mei 2012

SEBAB TERJADINYA KEMATIAN (MARANA)


Umumnya, lampu masih dapat menyala karena adanya faktor-faktor penyokongnya. Misalnya: minyak, udara dan sebagainya. Sebaliknya, lampu itu tidak dapat menyala karena faktor penyokongnya habis.
Kehidupan kita tidak jauh berbeda dengan lampu itu. Kehidupan masih berlangsung, karena harus bergantung dengan kondisi yang menyokongnya: misalnya bergantung pada kamma, pikiran (citta), musin (utu) dan makanan (ahara).jika salah satu dari empat kondisi (paccaya) ini padam, maka kehidupan ini pun pasti padam dengan segera. Sebab umur/usia dapat bertahan karena harus bergantung pada unsur panas, musim, kamma, vinnana dan makanan.

Sabtu, 19 Mei 2012

Feng shui Menurut Agama Buddha



oleh: NN Sumber: Maitreyawira 2000
Feng shui merupakan unsur filsafat China tradisional yang dengan selaras menghubuangkan seseorang dengan lingkungannya. Ahli filsafat China membagi potensi kehidupan seseorang dalam lima aspek yang mempengaruhi kemungkinan keberhasilan kehidupan seseorang yaitu : takdir, keberuntungan, feng shui, amal dan upaya.
Bagaimana pandangan Buddhisme mengenai feng shui? Dalam pandangan agama Buddha, takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Di sinilah perbedaan pandangan agama Buddha dan ahli feng shui. Ahli feng shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng shui buatan. Tapi dalam pandangan agama Buddha jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam Culakammavibhanga Sutta berikut :

Sejarah KITAB SUCI TIPITAKA



KITAB SUCI TIPITAKA

Tipitaka adalah tiga keranjang atau tiga kelompok ajaran dari Sang Buddha, yaitu:
Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidhamma Pitaka. Sejarah Tipitaka tidak dapat lepas dari konsili.

Sejarah konsili.
Setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana, bhikkhu Subhadda dan beberapa bhikkhu yang lain merasa bebas untuk berbuat apa saja yang mereka kehendaki, karena mereka merasa tidak ada lagi orang yang akan menegur atau melarangnya bila mereka melakukan pelanggaran vinaya. Melihat keadaan ini maka Arahat Maha Kassapa merasa perlu mengumpulkan Dhamma demi keamanan, keutuhan dan kemurnian Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha agar tidak timbul perselisihan di kemudian hari dintara para pengikutnya. Kemudian Arahat Maha Kassapa atas bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, memilih dan mengundang 499 Arahat untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha dalam suatu konsili.