Minggu, 20 Mei 2012

Apakah Agama Buddha Itu Kuno?




Oleh Y M Bhikkhu Uttamo Mahathera



Kalau kita melihat agama Buddha 'secara sepintas' maka kita akan dihadapkan pada satu anggapan bahwa agama Buddha adalah agama yang tidak menarik, agama yang kadang-kadang terlihat bersifat mistis dan sudah tidak cocok lagi dengan kehidupan modern seperti sekarang ini. Mengapa demikian? Coba kita perhatikan semua perlengkapan sembahyang yang ada di altar. Ada patung yang maha besar dan kita bernamaskara atau satu persujudan kepada patung tersebut sehingga orang lalu menyatakan bahwa agama Buddha adalah penyembah berhala. Kita juga akan menemukan dupa/hio dan bunga yang mirip seperti untuk sesajen. Kemudian ada lilin yang seolah-olah berkata bahwa agama Buddha belum percaya akan adanya listrik.

Tiga


Tiga atau Tri dalam bahasa Sansekerta tampaknya menyimpan misteri. Tiga tampaknya mempunyai arti atau makna khusus dalam Agama dan Spiritualitas di dunia.

Ada Tri Murti dalam Agama Hindu : Brahma, Wishnu, Shiwa.

Ada Trinitas dalam Agama Kristen : Allah Bapa, Putera, Roh Kudus.

Ada Tri Ratna dalam Agama Buddha : Buddha, Dharma dan Sangha.


Dan ketika saya bertanya pada teman saya - seorang Muslim - apakah ada yang signifikan dengan tiga ini - ia pun meng-iya-kan. Dalam tradisi Sufi juga dikenal tiga yang terdiri dari : Allah. Jibril. Muhammad. Ajaran Guru Nanak - yang lazim dikenal sebagai Agama Sikh - juga mengenal tiga. Guru - Guru , Sikh - Siswa dan Rabb - Allah.

Inti Ajaran Zen


1. Meditasi untuk Pencerahan
Seorang Guru Besar Zen - Hakuin - pernah pada suatu ketika ditanya :
' Sensei - bagaimanakah Buddhisme yang benar itu? '
Hakuin menjawab singkat : Mata Lurus, Hidung Tegak, Itulah Buddhisme yang Benar !

Pesan jelas dari jawaban yang sangat lugas ini adalah bahwa Buddhisme adalah Meditasi ! Pencarian Jalan di dalam diri untuk menemukan Pencerahan.
Meditasi dan Pencerahan. Dua hal inilah Tulang Punggung, Tonggak dari Ajaran Buddhisme Zen.

2. Pencarian di Dalam - melepas segala Konsep dan Kata
Meditasi sebagai tonggak dalam ajaran Zen menuntut Pencarian di Dalam, bukan di Luar. Meditasi Zen berarti menyatukan ' diri ' yang terbatas dengan ' Diri ' - diri yang tak terbatas, yang berada tidak jauh - dalam diri sendiri.

PERTEMUAN AJARAN BUDDHA DAN AJARAN TAO

Awal Ajaran Buddha Masuk ke Tiongok
Secara umum dikatakan bahwa agama Buddha datang ke Tiongkok pada tahun 65 masehi dimulai dengan kedatangan dua bhiksu dari Asia Tengah. Buddhisme menghadapi masyarakat yang sudah berbudaya tinggi dan memiliki filsafat sendiri. Buddhisme  mulai menyebar di Tiongkok selama dinasti Han dan berhasil mengokohkan diri dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Tiongkok. Memang pernah terjadi dalam sejarah Tiongkok, beberapa kali kaisar tidak setuju dengan kedatangan agama Buddha yang di anggap baru.

Pada awal kedatangan agama Buddha  di Tiongkok beraliran Hinayana yaitu sekte Abhidharma-kosa dan sekte Satyasidhi, tetapi  tidak bertahan lama.kemudian barulah agama Buddha beraliran Mahayana yang masuk ke Tiongkok.

Ajaran Buddhisme pada masa awal tersebut tidak begitu menekankan konsep tanpa diri atau roh [anatman/anatta], tetapi dalam usahanya menyesuaikan kepercayaan yang berkembang saat itu mengenai roh yang kekal, maka ditekankan mengenai Nirvana yang merupakan suatu kondisi yang kekal. Selain itu diperkenalkan juga hukum karma sebagai suatu nilai moral dan cinta kasih dan perlunya pengendalian nafsu keinginan.

Sejarah Taoisme di Tiongkok
Pendiri Taoisme ialah seorang ahli pikir Tiongkok terkenal dengan nama “Lao Tse” (guru tua) yang diperkirakan lahir tahun 600 SM bertepatan dengaqn tahun ke 3 dari raja King Ting dari dinasti Kau. Ia menjabat Pengawas Urusan Arsip pada Perpustakaan Kerajaan (Imperial Library). Lao Tse dengan ketekunannya mempelajari buku-buku kuno dan kemudian membentuk pendapatnya sendiri tentang agama dan filsafat yang pada masa kemudian sangat menarik perhatian orang-orang yang mempelajarinya. Ketika berumur 90 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai arsip kerajaan untuk kemudian melakukan pengembaraan ke seluruh negara guna menghindari tindakan raja yang ia anggap dzalim dan kejam.

SEBAB TERJADINYA KEMATIAN (MARANA)


Umumnya, lampu masih dapat menyala karena adanya faktor-faktor penyokongnya. Misalnya: minyak, udara dan sebagainya. Sebaliknya, lampu itu tidak dapat menyala karena faktor penyokongnya habis.
Kehidupan kita tidak jauh berbeda dengan lampu itu. Kehidupan masih berlangsung, karena harus bergantung dengan kondisi yang menyokongnya: misalnya bergantung pada kamma, pikiran (citta), musin (utu) dan makanan (ahara).jika salah satu dari empat kondisi (paccaya) ini padam, maka kehidupan ini pun pasti padam dengan segera. Sebab umur/usia dapat bertahan karena harus bergantung pada unsur panas, musim, kamma, vinnana dan makanan.

Sabtu, 19 Mei 2012

Feng shui Menurut Agama Buddha



oleh: NN Sumber: Maitreyawira 2000
Feng shui merupakan unsur filsafat China tradisional yang dengan selaras menghubuangkan seseorang dengan lingkungannya. Ahli filsafat China membagi potensi kehidupan seseorang dalam lima aspek yang mempengaruhi kemungkinan keberhasilan kehidupan seseorang yaitu : takdir, keberuntungan, feng shui, amal dan upaya.
Bagaimana pandangan Buddhisme mengenai feng shui? Dalam pandangan agama Buddha, takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Di sinilah perbedaan pandangan agama Buddha dan ahli feng shui. Ahli feng shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng shui buatan. Tapi dalam pandangan agama Buddha jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam Culakammavibhanga Sutta berikut :

Sejarah KITAB SUCI TIPITAKA



KITAB SUCI TIPITAKA

Tipitaka adalah tiga keranjang atau tiga kelompok ajaran dari Sang Buddha, yaitu:
Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidhamma Pitaka. Sejarah Tipitaka tidak dapat lepas dari konsili.

Sejarah konsili.
Setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana, bhikkhu Subhadda dan beberapa bhikkhu yang lain merasa bebas untuk berbuat apa saja yang mereka kehendaki, karena mereka merasa tidak ada lagi orang yang akan menegur atau melarangnya bila mereka melakukan pelanggaran vinaya. Melihat keadaan ini maka Arahat Maha Kassapa merasa perlu mengumpulkan Dhamma demi keamanan, keutuhan dan kemurnian Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha agar tidak timbul perselisihan di kemudian hari dintara para pengikutnya. Kemudian Arahat Maha Kassapa atas bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, memilih dan mengundang 499 Arahat untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha dalam suatu konsili.